Senin, 27 Mei 2013

Ciri-Ciri Umum Ayam Bangkok Laga

Ciri-Ciri Umum Ayam Bangkok Laga "

Beberapa Ciri-Ciri penting Ayam Bangkok Laga yaitu:
• Batok kepala dan tulang alisnya tebal.
• Bulu mengkilap dan kaku, terutama pada bulu sayap dan ekor.
• Kaki bersisik kasar, dengan bentuk dari persegi empat sampai bulat.
• Kepalanya berbentuk buah pinang.

• Ketika berdiri, sikap badannya tegak.
• Mata masuk ke dalam, sipit, dan jernih.
• Kulit muka kasar, tebal dan berwarna merah.
• Paruh besar, kuat melengkung, beralur mulai dari lubang hidung ke arah muka.
• Lubang hidung agak ke depan.
• Jari kaki panjang, kecil, kuat dan susunan jarinya mekar.
• Pandai memukul bagian vital lawan.
• Pukulan keras dan akurat.
• Semangat tarung tinggi.
• Tulang-tulangnya kasar dan rapat.
Ciri-ciri khas yang dimiliki oleh ayam Bangkok inilah yang membuatnya sangat terkenal kehebatannya di arena tarung di seluruh dunia.

Cara Cepat Mengenali Ayam Bangkok F1
Cara cepat yang bisa kita lakukan untuk menentukan dan memilih apakah seekor ayam masih merupakan turunan F1 dari Bangkok asli, ataupun masih memiliki darah bangkok yang kental. Berikut beberapa ciri yang dapat dijadikan panduan:

1. Suara kokok ayam keras dan pendek.
2. Badan panjang, tulangan kasar dan kaku.
3. Pada pangkal paha belakang, terdapat bulu yang memiliki warna yang sama dengan leher, bahu dan punggung.


Selain itu dari sisi warna, beberapa hal yang bisa dijadikan panduan yaitu:
1. Warna bulu leher, bahu, punggung, dan bagian belakang paha harus satu warna.
2. Warna bulu bagian bawah leher dan dada hanya satu warna dan berwarna hitam.
3. Warna bulu ekor hanya satu/dua warna dan berwarna hitam campuran putih.



Karakter Tulang Terbaik Ayam Bangkok
Bagi penghobby tulen dan Petarung kalangan selalu mempertimbangkan aspek pendukung dan menjadi tolak ukur dalam menyeleksi kwalitas AyamTarungnya. Salah satu hal penting yang harus dan paling diperhatikan adalah karakter dan kerapatan tulang yang dimiliki oleh seekor Ayam Bangkok. Beberapa patokan yang sering digunakan untuk menandai kerapatan tulang adalah pada bagian :

1. Tulang Sambungan kepala dan leher lebih baik tidak menonjol.
2. Ruas tulang leher makin rapat semakin baik.
3. Celah sambungan leher dan bahu makin rapat semakin baik.
4. Tulang sayap dalam makin tebal semakin baik.
5. Tulang pinggul makin bulat (tidak bidang) semakin baik.
6. Tulang Wajah tidak kasar semakin baik.
7. Tulang dada makin lebar semakin baik (bukan meruncing).
8. Jarak tulang dada belakang dengan supit makin dekat semakin baik.
9. Tulang Supit makin rapat semakin baik (boleh longgar asal tebal dan kaku).

Tips Memilih Ayam Bangkok yang Jawara

Tips Memilih Ayam Bangkok yang Baik/Bagus :

Pilih ayam yang berbadan tegap, atletis, kulit kasar seperti kulit buah jeruk menandakan ayam tersebut tahan rasa sakit,
Jenger blangkon menandakan hatinya besar bermental baja,
Kalau yang memiliki pukulan besar apabila ayam yang dipegang badanya lantas diangkat kakinya mengatung semua, lakukan beberapa kali kalau terus digantung hampir pasti ayam tersebut memiliki pukulan besar sedangkan yang jalu posisi jalu dekat dengan cakar, apalagi kalau didukung bawah ceker tumbuh seperti sisik (batu rantai).
Untuk menghindari kekalahan dalam laga adu ayam, perlu sekali di perhatikan cara tidurnya, posisi tidur ayam yang mau diadu untuk besok pagi atau siangnya. Kalau pada malam tidur dengan kepala di sembunyikan, walau kondisi ayam sudah baik atau siap tarung alangkah baiknya jangan diadu dulu tunda beberapa hari lagi akan tetapi apabila posisi tidur ayam pada malam harinya tidak menyembunyikan kepalanya itu pertanda ayam siap diadu.
Kalau Anda mengadu ayam seperti itu peluang untuk menang besar sekali.resep ini sudah beberapa kali Saya coba, selama ini membuahkan hasil yang memuaskan, Anda perlu mencobanya.

Kelemahan Dan Kelebihan Ternak ayam Bangkok

Keuntungan Usaha Ternak Ayam Bangkok :

Bisa dilakukan dengan modal kecil, sehinga cepat balik modal
Perawatan tidak sulit
Keuntungan yang didapat besar
Pasar tebuka lebar selain penghobby
Dalam mencari pekan tidak sulit karena sudah tersedia di toko – toko

Kelemahan atau Kekurangan Usaha Ternak Ayam Bangkok :

Hewan unggas mudah terserang penyakit, begitu juga dengan ayam bangkok
Hasil dari usaha ternak ayam bangkok tidak di sukai selera pasar.
Sering terjadi pencurian terhadap ayam.
Adanya penyakit dengan istilah Aratan.
Hasil usaha ternak ayam bangkok banyak yang betina dari pada pejantan.

Cara mengatsi Kanibalisme ayam

CARA MENGATASI KANIBALISME ( SALING MATUK ) PADA AYAM

Anda pasti sering dibuat pusing oleh ayam-ayam peliharaan anda yang saling mematuk sehingga mengakibatkan ayam-ayam tersebut terluka, untuk mengatasinya silahkan baca artikel Cara mengatasi kanibalisme pada ayam Kebiasaan ayam yang saling mematuk taua bahkan memakan telurnya sendiri sering disebut Kanibal. Kebiasaan ini sangat berbahaya bagi kehidupan unggas dan merugikan

Faktor yang menyebabkan terjadinya kanibalisme

1. Ayam kekurangan pakan dan defisiensi mineral.
Ayam kekurangan batu-batuan (grit), mineral (NaCI dan Kalsium) dan kandungan nutrisi lainnya akan memicu timbulnya sifat kanibalisme. Pada ayam petelur, ayam mematuk telurnya untuk menambah kekurangan kalsium. Pada ayam broiler ayam akan mematuk bulu, pial, jari-jari kaki ayam lainnya, bahkan hal ini jika terlalu parah dapat mengakibatkan kematian

2. Populasi ayam dalam 1 kandang dan keseragaman umur.
Jumlah ayam dalam suatu kandang yang terlalu padat, dapat mengakibatkan suhu ruang meningkat, sehingga ayam akan saling berebut untuk mendapatkan tempat yang nyaman. Dalam mencari tempat yang nyaman, ayam akan melakukan kanibalisme (bertarung) untuk mendapatkan tempat nyaman tersebut

Keseragaman umur ternak sangat penting karena kebanyakan ternak yang lebih dewasa akan menyerang ternak yang lebih muda, hal ini berakibat fatal jika saat pematukan mengenai mata atau organ lainnya yang menyebabkan cacat.

3. Udara di dalam terlalu panas, kelembaban tinggi.
Kondisi suhu kandang yang terlalu dan lembab akan mengakibatkan unggas menjadi stress. Hal ini dapat memicu timbulnya kanibalisme karena ternak berusaha melepaskan panas tubuh dengan mencari tempat yang nyaman.

4. Kurang tempat makan dan minum baik dari segi jumlah maupun luasnya.
Kekurangan tempat pakan dan dapat memicunya kanibalisme, hal ini karena ternak akan berebut untuk makan ataupun minum. Sifat alamiah ternak akan saling memperebutkan makanan. Mereka akan saling mematuk jika tempat pakannya sedikit.

5. Parasit
Parasit yang dapat memicu terjadinya kanibalisme adalah parasit luar yang dapat menyebabkan penyakit antara lain : kutu, caplak, tungau, dan pinjal. Ternak akan mematuk-matuk tubuhnya yang terasa gatal, bahkan bisa sampai berdarah

6.Warna merah (jengger)
Ayam cenderung menyerang warna merah (jengger), hal ini sering terjadi pada ayam kampong dan ayam petelur. Unggas akan mematuk jengger unggas lainnya. Sifat ini sifat alami ayam

CARA PENANGGULANGAN
1. Cara mengatasinya adalah dengan menambah pakan dan air bersih, kalau perlu air minum ditambah dengan sedikit garam dapur, yaitu 5g/liter air selama dua (2) hari berturut-turut

2. Kepadatan tebar ayam dalam sebuah kandang dikurangi supaya banyak menyisakan ruang gerak. Sehingga ternak dapat dengan mudah melepas panas tubuhnya. Kepadatan kandang sebaiknya 11-12 per meter persegi, hal ini untuk daerah pegunungan. Untuk memelihara dalam bentuk koloni, sebaiknya umur ternak harus seragama, karena unggas yang lebih muda akan menjadi sasaran kanibalisme.

3. Untuk mengndalikan suhu ruang tetap segar dan kelembapan tetap baik hrus memiliki fentilasi kandang yang baik. Suhu untuk unggas sekitar 33° C.

4. Dosis pakan per hari diberikan sedikit lebih banyak dan diberikan secara merata agar semuanya mempunyai akses terhadap pakan. Untuk tempat pakan dapat disesuaikan dengan umur ternak dan jumlah populasi ternak.

5. Melakukan sanitasi kandang dengan membersihkan kandang, dicuci dan disemprot dengan Antisep Formades atau Sporades, membatasi tamu, mencegah hewan liar dan hewan peliharaan masuk ke lingkungan kandang. Untuk membunuh kutu, caplak. Pinjal tungau dengan obat anti kutu (Kututox atau Kututox-S). Untuk mengatasi lalat didalam kandang dengan penyemprotan obat anti lalat.

6. Debeaking (potong paruh) yaitu memotong sedikit paruh ayam agar tidak melukai ketika dipakai untuk mematuk sesamanya. Pemotongan paruh yang dilakukan pada DOC atau berumur dibawah 1 minggu juga memberikan keuntungan dalam hal penanganan jauh lebih mudah dan paruhnya masih lunak, disamping itu apabila ayam mengalami stress akibat pemotongan paruh maka masih tersedia waktu yang cukup panjang untuk mengembalikan kondisinya kepada keadaan semula. Debeaking pada umur muda biasanya dilakukan pada tipe petelur, yaitu umur 10 - 14 minggu dan 3 - 4 minggu sebelum periode produksi yaitu umur 18 – 20 minggu.

Perbedaan Ayam Jalu Dan Ayam Pukul

TYPE AYAM JALU :

1. dapat membuat luka terbuka
2. bisa membuat ayam cacat fisik
3. bisa membuat ayam mati akibat luka dan kehabisan darah

TYPE AYAM PUKUL ( jalu konde/prongkol )

1. dapat membuat luka lebam
2. bisa membuat ayam cacat fisik dan mental
3. bisa membuat ayam mati akibat leher patah

kelebihan ayam jalu : memiliki kegesitan dan loncatan tinggi serta memiliki sabetan kaki yang cepat ( jika dengan akurasi pukulan yang cepat, tepat dan dalam dapat dengan mudah memenangi pertarungan )
kelemahan ayam jalu : otot kaki, sayap, pangkal paha mudah panas. akibat geraknya sendiri.

kelebihan ayam jalu konde/prongkol : memiliki pukulan yang mampu membuat ayam rusak jatuh mental, karena terasa hingga organ dalam yang vital, mampu membuat syock terapy musuh sehingga musuh berubah pukulnya dan solahnya sehingga menjadi down, dapat membuat cidera berkepanjangan akibat organ dalam yang sudah rusak.
kelemahan ayam jalu konde/prongkol : tadah pukulnya rata2 polos, badan kekar sehingga kurang gesit, dan kebanyakan bersifat defensif atau bertahan.

Jumat, 24 Mei 2013

MENGENALI TEKNIK TARUNG AYAM

Kebanyakan orang sangat suka ayam dgn teknik 'lock' yg indah. Ayam dgn teknik ini biasanya dianggap sbg ayam bagus. Tapi kenyataannya, banyak juga ayam dgn type ini yg kalah di pertarungan.
Kalau dari pengamatan saya, seharusnya kita jangan terjebak dgn 'keindahan' teknik semata. Pada prinsipnya, ayam dgn teknik bagus itu adlh ayam yg sulit dipukul. Gaya mengunci (ngalung) memang salah satu yg sulit dipukul. Tapi sebenarnya masih ada teknik lain yg sama2 sulit dipukul. Misalnya, ayam lari, ayam dibawah janggut, ayam ngendul, mendorong, ayam asor rapat ke tanah, dll. Ayam2 dgn gaya selain teknik ngalung memang kurang indah dilihat. Tapi cukup efektif juga utk meraih kemenangan.

Sebelum menganalisa teknik. Ada baiknya kita memahami prinsip2nya dulu.
Setiap individu yg bertarung harus memiliki pertahanan dan penyerangan yg baik. Teknik/gaya tarung ayam itu adalah sebuah pertahanan (defense), yaitu gaya atau cara ayam laga bertarung agar sulit dipukul musuh. Sementara utk serangan (offense), adlh pukulan yg akurat dan mematikan.
Untuk meraih kemenangan, maka ayam harus punya pukulan yg baik. Dilain sisi, utk menghindari kekalahan, ayam harus punya teknik yg sulit dipukul. Jadi keduanya harus dimiliki seekor ayam petarung andalan.
Kalau kita perhatikan, ayam yg hanya memiliki serangan yg baik (pukulan) tanpa didukung pertahanan (teknik) biasanya menang dgn babak belur (mudah dipukul/diserang). Sementara ayam yg hanya mengandalkan teknik, sangat sulit utk menang meskipun sulit juga dikalahkan (sulit dipukul, tapi sulit juga memukul).

Jadi kesimpulannya, setiap ayam yg kalah atau seri harus dianalisa dulu. Apakah terlalu mudah dipukul (pertahanan/teknik kurang baik) atau daya serangnya yg buruk (pukulan kurang bagus).

MENCENTAK BIBIT UNGGUL AYAM BANGKOK

Kenapa ternak kita hasilnya acak-acakan dan banyak yang boncos..??
Hasil tidak seragam, dan kualitas mutunya lambat laun terasa semakin menurun…
Kebanyakan peternak di Indonesia sangat fanatik dgn trah juara. Juara VS Juara, tapi anakannya tidak ada yg juara… Ini menimbulkan pertanyaan tersendiri...

Salah satu penyebabnya mungkin krn indukan kita geno-typenya tidak seragam alias acak-acakan. Itulah sebabnya diperlukan ternak dgn "rekayasa genetik" untuk menyeragamkan geno-type melalui proses ternak yg lebih terpadu, tersistematis atau terpola dengan baik. Bukan sekedar ayam menangan saja.

Buat rekan2 sekalian, ini ada sedikit artikel mengenai teknik2 breeding (beternak) dgn cara yg lebih sistematis sehingga bisa juga disebut sebagai ‘Rekayasa Genetika’.
Mungkin saja diantara teman2 ada yg lebih berpengalaman dan menemukan cara ternak yg lebih baik. Tapi minimal, artikel ini bisa menjadi sebuah wawasan baru mengenai bagaimana cara beternak yg baik dgn teknik modern sesuai dgn teori genetika.

Sebelum dilanjut, ada baiknya kita mengenal dulu beberapa kosa kata yg ada dalam artikel ini agar tdk terjadi salah penafsiran.

Inbreed : Perkawinan antara dua individu yg memiliki hubungan darah sangat dekat. Yaitu : Ibu dgn anak, bapak dgn anak dan anak vs anak.

Line breed : Perkawinan dua individu yg memiliki hubungan darah tidak terlalu jauh. Contoh : Kakek vs cucu, paman vs keponakan, dll.

Cross breed : Perkawinan antara 2 individu yg tidak memiliki hubungan darah. Atau minimal hubungan darahnya terlalu jauh.

Super breed : Individu yang selalu mampu menurunkan sifat2 terbaik pada keturunannya.

Super fight : Individu yang diproyeksikan khusus untuk lomba/tarung.








Re: [info] Pemuliaan Ternak

Post  Administrator on Tue Mar 03, 2009 9:03 pm
Artikel ini ditulis oleh Steven van Breemen, sesuai dgn pengalamannya beternak merpati pos di Eropa sana. Dituangkan dalam buku berjudul Mini Course The Art of Breeding.
Meskipun hewan yg digunakan adalah merpati, tapi saya rasa bisa diterapkan pada Ayam. Mengingat kedua spesies ini banyak memiliki kesamaan.

Berikut ringkasannya :

Steven Van Breemen mengembangkan sebuah metode ternak yang disebut : "population genetics".
Tujuan metode ini adalah membangun suatu populasi yang ada dalam kandang dengan ciri-ciri genetika yang kurang lebih sama (homogen). Misalnya, kalau kita punya 50 ayam di kandang, maka semuanya mempunyai ciri kualitas karakter yang relatif sama (tentu tidak 100 % sama, tapi kalaupun berbeda tidak terlalu jauh). Dari kesamaan karakter ini, kita akan mampu memunculkan hasil ternak yang selalu stabil mutunya. Artinya, kita bisa mendapatkan stok super breeder unggulan yang pada akhirnya mampu memunculkan super fight.

Metode ini merupakan pengembangan dari teori Gregory Mendel yg dimodifikasi. Aplikasinya dengan menggunakan prinsip Cross Breed, Inbreed dan Line breed secara sistematis dan tercatat dgn detail.
Menurut Mr. Steven, bila kita sukses mengembangkan metode ini, maka kita akan ongkang2 kaki bisa menikmati hasilnya selama 20 tahun lebih…!!

Teori population genetics hanya cocok diterapkan oleh breeder yang serius, konsisten dan mempunyai visi jauh ke depan. Jadi harus diawali dengan suatu angan-angan tentang kualitas ayam yg nantinya ingin kita hasilkan.

Berikut penerapannya di lapangan :

Tahapan ternak berdasar teori ini :
1. Cross breed I -----> 2. inbreed -----> 3. line breed -----> 4. cross breed II

1. Cross breed I
Sebelum mulai ternak, kita harus berkhayal dulu. Berkhayal tentang seperti apa typical karakter ayam terbaik yang kita idam2kan. Bukan sekedar ikut2an hanya melihat ayam juara yang ada. Ayam juara belum tentu sempurna. Maka khayalan kita harus jauh lebih bagus dari sekedar juara. Agak idealis kelihatannya, tapi inilah cita cita yang harus dicapai, bagaimanapun sulitnya.

Untuk cross breed I, carilah pasangan indukan sesuai dgn kriteria khayalan kita tsb. Memakai ayam juara lebih dianjurkan. Tapi jangan asal comot!!!. Ayam juara banyak ragam typikal kerjanya. Misalkan ingin punya ayam dgn pukul keras, maka carilah ayam juara yg tipikal kerjanya pukul keras. Kemudian cari juga pasangan betinanya yg keturunan ayam pukul keras.
Hasil dari cross breed 1 ini diharapkan muncul ayam2 dgn karakter pukul keras secara merata pada anakannya.

Cross breed 1 ini dianggap tahap yg paling penting utk pondasi tahapan breeding berikutnya. Hasil anakan 75% harus rata karakternya. Ini untuk menghindari resiko besar pada tahapan breeding selanjutnya (inbreed), dan menghindari set back yg bisa membuang waktu percuma.

2. Inbreed :
Tujuan inbreed adlh mencetak breeder (parental stock) yg menyatukan sifat2 positif yg dimiliki agar lebih kuat daya turun ke anaknya (dominan).
Hasil inilah yg disebut 'investasi', modal dasar dan aset ternakan kita yg sangat berharga. Anakan hasil inbreed, biasanya tidak memiliki ‘vitalitas’. Yaitu rentan terhadap penyakit, dan fisik/staminanya loyo. Ini tidak menjadi masalah, karena tujuan utamanya adalah untuk parental stock, bukan untuk dijadikan fighter. Sukur2 kalo ternyata hasilnya bisa jadi petarung. Pada akhirnya, kurangnya vitalitas ini dapat diperbaiki melalui tahapan berikutnya.

3. Line breed :
Setelah dapat 'modal' dari inbreed, diperkuat lagi dgn line breed. Bila dipasangkan (misalnya) dgn paman yg punya pukul keras, hasilnya sudah bisa dipastikan : ayam dgn karakter pukul sempurna yg sangat dominan. Mungkin inilah yg dimaksud oleh Steven sebagai 'super breed'. Yaitu ayam yg memiliki daya turun breeding yg kuat thdp anak2nya.

4. Cross breed 2 :
Super breed ini boleh dicoba utk disilang dgn ayam dari trah lain (cross breed ke 2). Tujuannya utk menambah daya vitalitas dan menyempurnakan karakter. Kalau di cross dgn ayam lain yg pukul keras, hasilnya pasti ayam dgn pukulan sempurna. Kalau di cross dgn ayam yg sifatnya agak berbeda, -teknik bagus misalnya- maka pukul kerasnya tidak akan hilang. Justru kita berharap ayam dgn tipikal pukul keras dan teknik bagus. Inilah yang dimaksud Mr. Steven sebagai ‘Super fighter’.


Beberapa prinsip yg harus dipahami :

1. Tujuan utama teori population genetics adalah untuk melestarikan karakter/sifat-sifat unggul dari indukan (untuk mudahnya kita pake saja istilah "geno-type") , bukan mempertahankan ciri-ciri fisik (feno-type). Dgn kata lain, tujuan teori ini adlh menciptakan ‘super ‘breeder’.

2. Inbreeding pada prinsipnya adalah upaya menggabungkan sifat-sifat/ karakter 2 individu yang berbeda, baik karakter yang positif maupun negatif. (Ingat, tidak ada ayam yg sempurna). Oleh karenanya rumus inbreeding adalah "the best vs the best". Mr. Breemen memakai istilah super breeder vs super breeder. Yang kedua, super breeder harus mempunyai karakteristik yg dapat mendukung "khayalan" kualitas ayam yg ingin dihasilkan dari ternak kita. Misalnya kalau kita menghayalkan bahwa hasil ternakan kita harus teknik bagus, maka cari indukan yg teknik bagus. Kalau sekarang belum memiliki atau belum mampu memiliki indukan yg "ideal", menurut saya tidak perlu khawatir karena kualitas indukan dapat diperbaiki melalui cross-breeding.
Mungkin ada yg bertanya, kalau kita sudah punya "super breeder" kenapa tidak itu saja diternak dan nggak perlu repot-repot pake teori population genetics??
jawab : Kalau tujuan kita ternak hanya jangka pendek memang teori population genetics tidak perlu, tapi seperti dijelaskan sebelumnya, tujuan kita adalah jangka panjang. Perlu diingat bahwa super breeder yg kita punya suatu saat akan mati, mandul, atau sakit. Kalau ini terjadi maka kita kehilangan modal. Itu sebabnya banyak peternak besar yg gagal mempertahankan standard kualitasnya dan terus menurun. Dan banyak ayam2 juara yg terputus generasinya.

3. Cross-breeding yg pertama adalah pada saat awal memulai ternak dimana indukan berasal dari dua darah (strain) yg berbeda sedangkan cross-breeding yg kedua dilakukan dengan dua tujuan, yaitu apabila kita ingin memproduksi petarung dan untuk memperbaiki kualitas darah yg sudah ada (menambahkan elemen baru atau "additive characteristics" yg sudah ada).

4. Aplikasi teori population genetics menuntut adanya sistem seleksi yg ekstra ketat. Beberapa waktu yg lalu ada pendapat yg mengatakan untuk bisa memakai sistem inbreeding, maka kita harus menjadi ahli "membunuh". Istilah ini sebenarnya hanya untuk memberikan tekanan bahwa anakan yg akan melanjutkan generasi indukan harus diseleksi secara ketat. Pilihlah anak betina yg mirip bapaknya dan anak jantan yg mirip ibunya. Yang perlu dipahami, pengertian "mirip" disini bukan mirip secara fisik, tapi yg lebih penting adalah karakternya (tetapi kalau secara fisik juga mirip ya tidak apa-apa). Di sini lagi-lagi diperlukan "feeling" dan keahlian dalam melakukan seleksi. Agar kita bisa melakukan seleksi, misalnya untuk mengambil 1 pasang pada setiap generasi kita tetaskan 3 X, lalu dari situ dilakukan seleksi untuk menentukan 1 pasang yg akan melanjutkan karakter moyangnya (ancestors). Semakin banyak pilihan yg akan diseleksi, akan semakin bagus.

5. Hasil inbreeding selalu ditandai dengan ciri-ciri kehilangan vitalitas (ayam hasil inbreeding menunjukkan gejala penurunan vitalitas). Prof. Anker bahkan menegaskan bahwa semakin besar hilangnya vitalitas pada ayam hasil in-breeding berarti effek dari inbreeding itu lebih bagus ( confused confused ).
Ayam hasil inbreeding tidak cocok untuk tarung, tapi hanya cocok untuk menjadi indukan (orang eropa biasanya beli burung bukan untuk dimainkan tapi untuk breeding). Turunanya nanti yang dimainkan.
Vitalitas yang hilang itu akan didapatkan kembali apabila hasil inbreeding di-cross dengan ayam lain. Inbreeding dimaksudkan untuk membangun sifat-sifat yang akan selalu diturunkan kepada turunannya (offspring), sedangkan cross-breeding untuk menambah sifat-sifat/ karakter yang sudah ada seperti menambah vitalitas, karakter dan kekuatan.
Dengan in-breeding kita bisa memperbaiki kualitas yang jelek. In-breeding adalah pengurangan variasi atau keragaman. Semakin banyak/sering suatu darah tertentu (strain) dilakukan in-breed maka turunannya akan mirip satu sama lain.
Menjodohkan bapak dan anaknya yg cewek atau ibu dengan anaknya yg cowok lebih efektif hasilnya dari pada menjodohkan kakak dengan adiknya (meskipun sama-sama in-breeding tapi sepertinya dampaknya berbeda).